Komitmen IETC untuk Pengembangan Profesional dengan Menyelenggarakan Workshop ESP berbasis AI: Luaran Antologi Refleksi dan Rencana Pengajaran

Yogyakarta, 26 Agustus 2026 – Indonesian ESP Teachers Community (IETC) bersama Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sukses menyelenggarakan workshop tatap muka bertajuk Integrating AI into ESP Practice: Needs Analysis – Materials Development – Assessment Design pada Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan yang didukung oleh Lukman Batik Workshop ini menjadi bukti nyata komitmen IETC dalam memajukan kompetensi para pengajar ESP di Indonesia.

Workshop yang digelar di Main Conference Room, Gedung AR Fachruddin A Lantai 5, UMY ini menghadirkan tiga narasumber ahli, yaitu Dwi Yulianto Nugroho, M.Ed., Ph.D. (IETC/Universitas Pelita Harapan), Banatul Murtafiah, S.Pd., M.Pd. (Universitas Islam Indonesia), dan FX. Risang Baskara, Ph.D. (Universitas Sanata Dharma). Dengan pendekatan praktik langsung (hands-on), peserta diajak aktif menganalisis kebutuhan, mengembangkan bahan ajar, hingga merancang asesmen pembelajaran ESP melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara efektif, pedagogis, dan etis.

Salah satu capaian penting dari workshop ini yaitu penyusunan sebuah antologi yang berisi kumpulan refleksi dan rencana pengajaran dari para peserta. Setiap peserta menuliskan refleksi atas praktik mengajar yang telah mereka jalankan selama ini, serta merancang rencana pengajaran ke depan dengan mengintegrasikan AI. Karya ini menjadi dokumen berharga yang merekam perjalanan profesional para pengajar ESP dan menjadi inspirasi bagi anggota komunitas lainnya.

Sepanjang sesi workshop, suara-suara peserta didengar dan ditanggapi secara serius. Banyak di antara mereka yang mengaku semakin tersadarkan bahwa selama ini praktik penggunaan AI dalam pengajaran ESP yang mereka jalankan masih belum sepenuhnya memperhatikan beberapa aspek krusial. Mereka menyadari bahwa pemanfaatan AI selama ini cenderung instan dan teknologis, tanpa didasari oleh analisis kebutuhan yang mendalam sesuai tuntutan pemangku kepentingan (stakeholder), belum mempertimbangkan aspek etik secara memadai, kurang memperhatikan perlindungan data pribadi peserta didik, serta mengabaikan esensi pedagogi dalam penyusunan materi dan asesmen. Kesadaran ini menjadi titik balik yang mengubah cara pandang mereka terhadap integrasi AI di kelas ESP.

Ketua IETC, Dr. Luluk Iswati, S.Pd., M.Hum., menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta dan keberhasilan acara ini. “Workshop ini bukan sekadar ajang pelatihan, tetapi ruang bagi para pengajar ESP untuk berbagi pengalaman, berefleksi, dan merencanakan masa depan pengajaran mereka. Antologi yang dihasilkan bukan hanya sekadar kumpulan tulisan, tetapi merupakan cerminan perjalanan profesional anggota IETC yang terus belajar dan berkembang. Kami akan mendokumentasikan dan membagikan antologi ini kepada seluruh anggota sebagai sumber inspirasi dan bahan diskusi kolektif ke depan,” ujar Dr. Luluk Iswati.

Keberhasilan workshop ini menjadi pijakan kuat bagi IETC untuk terus menghadirkan program-program serupa. Antologi refleksi dan rencana pengajaran yang lahir dari workshop ini akan menjadi warisan berharga yang menunjukkan bahwa IETC adalah komunitas yang aktif, reflektif, dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Leave a Reply